Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyulap limbah tongkol jagung menjadi sumber serat untuk pakan ternak ruminansia

Ketika saya lewat didaerah blora tepatnya jalan blora-cepu, terlihat disepanjang jalan hamparan hutan jati yang cukup luas.
sebagian besar banyak juga area hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar menggunakannya sebagai hutan produktif untuk ditanami jagung, disepanjang jalan tersebut pada semua musim terlebih pada saat kemarau seperti ini banyak ditemukan penjemuran jagung oleh para petani. 
Dan sayangnya banyak limbah dari jagung yang berupa tongkol atau janggel terbuang sia-sia padahal sebenarnya limbah ini bisa dimanfaatkan untuk campuran pakan ternak ruminansia seperti kambing, sapi dan domba sebagai sumber serat.
PENGANTAR

Tongkol jagung (Jawa : janggel ), merupakan bagian dari buah jagung setelah bijinya dipipil. Kandungan nutrisi tongkol jagung berdasarkan analisis di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak meliputi :
1. Kadar air 29,54%;
2. Bahan kering (BK) 70,45%;
3. Protein kasar 2,67%;
4. Serat kasar 46,52%.
Dalam 100% bahan kering BK.

Tongkol jagung merupakan sisa hasil pertanian yang memiliki kualitas yang rendah. Tongkol jagung bisa digunakan sebagai unsur serat bahan konsentrat pada pakan ternak ruminansia. Kandungan serat kasar tinggi, protein dan kecernaan rendah. Oleh karena itu, dalam pemanfaatannya sebagai bahan pakan, tongkol jagung perlu ditingkatkan kualitasnya antara lain dengan teknologi pengolahan fermentasi atau pembuatan silase.

PENGOLAHAN

Upaya peningkatan kualitas tongkol jagung sebagai pakan ruminasia dapat dilakukan dengan perlakuan fisik, kimiawi, biologi atau gabungan perlakuan tersebut.

Perlakuan fisik dengan dikeringkan dan lalu digiling dengan lubang saringan 2-3 mm. Kemudian dilanjut difermentasi tertutup menggunakan  mikrobia probiotika selulolitik dan lignolitik. Masa pemeramannya (fermentation time) minimum 8 minggu agar benar-benar matang dan terjadi peningkatan kualitas secara nyata (signifikan). Proses fermentasi bertujuan menurunkan kadar serat kasar (SK) dan serat sangat kasar (SSK), meningkatkan kecernaan dan sekaligus meningkatkan kadar protein kasar.

PENGGUNAAN

Setelah difermentasi tertutup minimum selama 8 minggu, mesti diangin-anginkan dulu minimum 15 menit agar kadar alkoholnya hilang dan menjadi lebih kering. Bisa dimasukkan sebagai salah satu unsur serat. Porsinya maksimum 10% dari pakan komplet.

Tinggal menggiling jadi berukuran kecil-kecil. Tidak harus jadi selembut tepung. Sebagian berbentuk butiran (granule) agar bisa tertahan lebih lama di dalam rumen sehingga akan mengalami fermentasi in vivo (di dalam tubuh). Cukup pakai lubang saringan 3 mm.

Bila dihitung-hitung, ongkos menggiling tongkol jagung, bisa Rp 500-700,-/Kg. Karena hasil menggilingnya tidak bisa banyak per jamnya. Kecuali bila telah dikeringkan dulu pakai pengering (oven) sampai warnanya kekuningan, maka menggilingnya lebih mudah (Jawa : muprul) dan hasilnya bisa lebih banyak per jamnya.

Setelah tongkol jagung digiling, maka wajib difermentasi tertutup dulu pakai probiotika pengurai serat kasar (SK), yaitu selulosa dan hemiselulosa dan pengurai serat sangat kasar (SSK), yaitu lignin.

Sebagai literature bisa menggunakan probiotik Win_Prob Ternak cair, dosis 1 liter per ton bahan baku pakan. Tanpa bahan lain apa pun.
Komposisinya :
1. Tongkol jagung giling 850 Kg x Rp 1.350,-/Kg = Rp 1.147.500,-;

2. Air sumur (air tanpa klorinasi) 149 liter x Rp 50,-/liter = Rp 7.450,-;

3. Win_Prob Ternak cair 1 liter x Rp 50.000,- = Rp 50.000,-.

Total nilai barangnya menjadi Rp 1.154.950,-. Dengan bobot 1.000 Kg, maka harga tongkol jagung giling (TJG) fermentasi tertutup menjadi Rp 1.155,-/Kg. Dibanding harga TJG sebelum difermentasi tertutup Rp 1.350,-, lebih murah Rp 195,-/Kg. Padahal, kualitasnya meningkat secara signifikan. Ini salah satu manfaat fermentasi tertutup yang sering tidak diketahui oleh teman-teman peternak.
Pemeramannya (fermentation time) perlu waktu selama minimum 8 minggu agar kualitasnya bisa meningkat secara nyata. Baik dari segi organoleptik :
1. Warna, kuning keemasan;
2. Bau, seperti tape;
3. Tekstur, terasa menjadi lebih lunak;
4. Rasa menjadi manis, menjadi lebih disukai ternak (palatable).

Mau pun peningkatan secara kimiawi atau secara proksimat :
1. SK (selulosa, hemiselulosa) dan SSK (lignin), turun;
2. TDN naik;
3. Protein kasar naik;
4. Daya simpan bisa sampai 36 bulan bila wadahnya dalam kondisi tetap rapat dan kedap.

Selalu amati apa yang ada disekitar, manfaatkan apasaja bila itu berpotensi menambah penghasilan.

Salam dari desa 
Salam kandang tentrem lestari

3 komentar untuk "Menyulap limbah tongkol jagung menjadi sumber serat untuk pakan ternak ruminansia"

  1. Sangat membantu sekali tulisannya mas.salam dari Blora

    BalasHapus
  2. Siap kak, salam buat sahabat blora

    BalasHapus
  3. Permisi kak Saya mau Tanya
    Untuk pengeringan tongkol jagungnya apakah menggunakan energi cahaya matahari atau dengan oven langsung ya ?
    Kalau menggunakan energi cahaya matahari, itu penjemuran ya bisa berapa ya kak?
    Kalau menggunakan oven itu suhu yang digunakan berapa, Dan kadar air tongkol Jagung yang siap digiling berkisaran berapa persen ya kak?

    BalasHapus